Leadership Lahir Ketika Seseorang Bertindak Founder Mentality’.

Nasional. Harapan.Lampung.com-Seorang doctor yang dikenal jago data scientist dan berhasil menjadi Data Scientist terbaik se-UK di Maritime Innovation Week Hackathon, Harry Patria, berhasil lulus dan meraih master of scientist data science dengan Cum Laude. Sekaligus pada saat itu juga dinyatakan berhak memperoleh beasiswa PhD penuh sebelum lulus master.
Dalam Sebuah Unggahannya di media sosial LinkedIn.com Pada Kamis 8 January2026, Dr. Harry Patria Menyampaikan Karya Wawasan Yaitu ; Bagaimana mau naik kelas kalau masi berpikir seperti penumpang?? Datang tepat waktu, duduk manis, berharap kereta membawa ke tujuan yang lebih tinggi. Padahal yang naik kelas itu biasanya bukan penumpang, tapi orang yang ikut mikir ke mana relnya harus dibangun.
Di sinilah pentingnya ‘founder mentality’. Bukan berarti semua orang harus jadi founder, tapi cara berpikirnya.
Dalam teori organisasi, ini dekat dengan konsep ownership mindset dan psychological ownership. Ketika seseorang merasa “ini urusan gue”, kualitas keputusan berubah. Orang berhenti bertanya “ini tugas gue atau bukan”, lalu mulai bertanya “kalau ini gagal, dampaknya ke sistem apa”.
Satirnya, kita sering ingin dihargai seperti partner, tapi bekerja seperti vendor. Ingin didengar di ruang strategis, tapi hanya bicara saat diminta. Ingin dipercaya memegang keputusan, tapi alergi pada risiko.
Founder mentality itu gaes kebalikannya. Ia nyaman dengan ketidakpastian, karena dari sanalah nilai diciptakan. Seperti dalam teori effectuation, founder tidak menunggu kondisi ideal. Mereka mulai dari apa yang ada, lalu menggerakkan lingkungan sedikit demi sedikit.
Metaforanya sederhana. Karyawan tanpa founder mentality itu seperti penyewa kos. Yang penting kamar rapi, listrik nyala, dan tidak ribut. Karyawan dengan founder mentality itu seperti orang yang bangun rumah. Mereka peduli fondasi, aliran air, retakan kecil di dinding, karena tahu satu kesalahan kecil bisa jadi masalah besar nanti. Bukan karena perfeksionis, tapi karena bertanggung jawab.
Yang sering disalahpahami, founder mentality bukan soal kerja lebih keras tanpa batas. Ini soal cara berpikir sistemik. Dalam systems thinking, orang dengan mentalitas ini melihat hubungan sebab akibat jangka panjang, bukan sekadar output hari ini. Mereka paham bahwa keputusan kecil yang konsisten lebih berbahaya daripada kesalahan besar yang disadari.
Makanya, banyak orang stagnan bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu nyaman di zona “aku cuma menjalankan”. Padahal dunia kerja modern tidak lagi memberi promosi pada yang paling patuh, tapi pada yang paling bisa dipercaya menjaga arah. Leadership lahir ketika seseorang bertindak seolah perusahaan itu sebagian dari dirinya, meski namanya tidak ada di papan depan.
In a nutshell, kalau kamu ingin diperlakukan seperti aset strategis, berhentilah berpikir seperti biaya operasional. Founder mentality bukan tiket instan naik jabatan, tapi ia mengubah cara orang melihatmu. ungkap Dr.Harry Patria
Menurut Paradigma Hendrik Iskandar Definisi Kepemimpinan (leadership) Yang baik akan lahir ketika seseorang bertindak dengan ‘founder mentality’ (mentalitas pendiri) menyoroti cara pandang dan tindakan yang sering kali membedakan para pemimpin efektif.
Mentalitas pendiri merujuk pada sikap dan perilaku seperti:
*Rasa Kepemilikan yang Kuat: Memperlakukan organisasi atau proyek seolah-olah itu milik pribadi, dengan komitmen penuh terhadap hasil jangka panjang
*Keberanian Mengambil Risiko: Kesediaan untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi ketidakpastian, dan membuat keputusan berani demi pertumbuhan atau inovasi
*Fokus pada Misi dan Visi: Memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan fundamental dan menggunakannya sebagai kompas dalam setiap tindakan, bukan hanya mengejar keuntungan jangka pendek
*Proaktif dan Berorientasi pada Tindakan: Tidak menunggu arahan, melainkan mengidentifikasi masalah dan peluang, lalu segera mengambil inisiatif untuk menyelesaikannya.
*Ketahanan (Resiliensi): Kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan dan belajar dari kesalahan, melihat tantangan sebagai bagian dari proses pembangunan.
Jadi, kepemimpinan sering kali muncul bukan dari gelar atau posisi formal, tetapi dari tindakan nyata yang menunjukkan rasa tanggung jawab, inisiatif, dan dedikasi yang mendalam—inti dari mentalitas seorang pendiri.
Sumber: Dr. Harry Patria
Editor. : Hendrik





