Digeser dari RSUDAM, dr. Imam Ghozali Disebut Bakal Duduki Kursi Strategis di Pemerintahan Pusat

Harapanlampung.com-Nasib unik dialami seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung. Setelah sempat dicopot dari jabatan lamanya beberapa waktu lalu, ia justru kini mendapatkan kepercayaan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi dan strategis.
Ada yang datang kembali, ada pula yang pergi membawa tanda tanya. Selasa (6/10/2026), ketika dr. Lukman Pura kembali dilantik sebagai Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM), dr. Imam Ghozali justru memilih terbang meninggalkan Lampung.
Hanya sekitar 20 menit sebelum pelantikan Lukman Pura yang berlangsung pukul 14.00 WIB, Imam Ghozali terpantau berada di Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan. Ia bersama sang istri menaiki penerbangan Lion Air menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Imam duduk di kursi 2-B, sementara istrinya di kursi 2-A.
Pemandangan sederhana itu menjadi menarik karena terjadi tepat pada hari ketika kursinya sebagai orang nomor satu di RSUDAM berpindah tangan.
Informasi yang dihimpun wartawan, dr. Imam Ghozali akan menempati kursi strategis di pemerintahan pusat. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi yang mengaitkan penerbangannya dengan penugasan baru. Pemerintah Provinsi Lampung juga belum mengumumkan secara terbuka ke mana Imam akan ditempatkan.
Yang sudah pasti, Pemprov Lampung melantik Lukman Pura sebagai Direktur RSUDAM berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor 800.1.3.3/3466/VI.04/2026 tertanggal 5 Oktober 2026. Lukman sebelumnya menjabat Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia.
Di titik inilah perjalanan Imam Ghozali di RSUDAM menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia bukan sekadar menempati kursi direktur. Sejak dipercaya memimpin, ia membawa sejumlah gagasan untuk mengubah cara rumah sakit melayani pasien.
Filosofi Puakhi ciptaannya menjadi ruh yang ia dorong. Pelayanan tidak cukup hanya cepat dan tepat secara medis, tetapi juga harus membuat pasien merasa dihargai sebagai manusia. Dalam sejumlah kesempatan, Imam menyampaikan bahwa pasien harus diperlakukan seperti saudara. Bahkan ketika kritik datang dari relawan, ia menyebut kritik tersebut sebagai “cermin”.
“Puakhi” tidak berhenti sebagai slogan. Pada Juli 2026, RSUDAM meluncurkan SIGER PUAKHI, layanan pengantaran obat kepada pasien rawat jalan. Ada pula rencana pembangunan gedung parkir lima lantai berkapasitas 500 mobil dan 300 motor yang lantai teratasnya akan dijadikan rumah singgah dengan 29 kamar bagi keluarga pasien.
Gagasan lainnya bergerak ke arah penguatan layanan spesialistik jantung, stroke dan paru agar pasien Lampung tidak selalu harus dirujuk keluar daerah. Pada 2025, RSUDAM juga memperkenalkan Klinik Berhenti Merokok, Klinik Nyeri dan Paliatif serta shuttle bus Lamban Tuppak Puakhi.
Karena itu, pergantian direktur pada 6 Oktober 2026 terasa seperti rem mendadak bagi sebuah kendaraan yang sedang melaju. Ada pekerjaan yang belum selesai dan janji pelayanan yang masih harus diteruskan oleh tangan berikutnya.
Seorang pejabat boleh berganti meja dan meninggalkan kota, tetapi jejak pengabdiannya tidak otomatis ikut pergi. Jika kelak Imam Ghozali benar-benar mendapat tugas baru di tingkat nasional, maka penerbangannya pada Selasa siang itu mungkin bukan sekadar perjalanan dari Radin Inten II menuju Soekarno-Hatta, melainkan penerbangan menuju babak lain dari pengabdian.
Namun untuk saat ini, “menasional” masih sebatas pertanyaan. Informasi mengenai penugasan Imam ke tingkat nasional belum memperoleh konfirmasi resmi dari pihak yang berwenang.
RSUDAM kini kembali memiliki nahkoda baru. Lukman Pura mendapat amanah meneruskan pekerjaan besar rumah sakit rujukan milik Lampung itu. Sementara Imam Ghozali meninggalkan tanda tanya: ke mana langkah berikutnya?
Pesawatnya sudah terbang, tetapi jawabannya belum. Satu hal yang pasti, jabatan bisa selesai dalam hitungan menit, tetapi pengabdian tidak pernah sesingkat itu.
Dikutip dari: http://Helloindonesia.com
Hendrik Iskandar






