Modus Penipuan Online Merajalela, Masyarakat Di Himbau Waspada

Harapanlampung.com-Kasus penipuan berbasis digital kembali marak dengan modus baru yang memanfaatkan aplikasi pesan instan dan media sosial. Pelaku kini tak hanya menyamar sebagai TKW hongkong memohon bantu urus cuti” untuk menjerat korban. Tujuannya sama, mencuri data pribadi dan uang calon korban dengan tipu daya yang semakin halus.

 

Seperti yang terjadi malam tadi

 

Sebut saja AE dari kampung sari jaya,kecamatan negara batin,kab way kanan,sekira pukul 03.20 dini hari tiba tiba dapat pesan wa dari orang tak di kenal namun memaki Poto propil warga dari desa tetangga meminta untuk pengurusan izin cuti dari Hongkong ke agen yg ada di jakarta namun tidak di tanggapi.kamis(3-9-2026)

 

Namun AE tak mudah percaya begitu saja,dia langsung menghubungi Poto propil yang tertera di whabsan via tlpon

Wiwik supranti mengatakan itu midus penipuan bang,saya di bali bukan di luar negri jadi itu mutlak penipuan memakai poto saya.ujar Wiwik

 

Wiwik berharap agar di up di media sosial FB agar kawan,sahabat,keluarga dan yg lain tidak menjadi korban penipuan tersebut.

 

Seiring kemajuan teknologi, akses terhadap informasi meminta tolong kian mudah, termasuk melalui WhatsApp. Namun, kemudahan ini dimanfaatkan pelaku kejahatan yang berpura-pura menjadi teman,sahabat,Untuk meyakinkan korban, pelaku kerap meminta dokumen pribadi seperti KTP, NPWP, dan nomor rekening.

 

Beberapa korban bahkan diminta mentransfer sejumlah uang dengan alasan biaya kelancaran pengurusan Setelah dana dikirim, pelaku langsung menghilang tanpa jejak.

 

Selain kerugian finansial, korban juga berisiko mengalami pencurian identitas. Data pribadi yang dikirimkan dapat disalahgunakan untuk membuka rekening bank, mengajukan pinjaman online, hingga melakukan tindak kriminal digital lainnya. Beberapa korban dilaporkan mengalami tekanan psikologis akibat rasa kecewa dan kehilangan kepercayaan diri setelah menyadari telah ditipu.

 

Belakangan, modus baru penipuan “bantu urus cuti” tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Seorang laki laki dan banyak lain nya nyaris menjadi korban setelah menerima pesan dari seseorang yang mengaku bekerja di luar negri/Hongkong Pelaku membangun kedekatan emosional lewat percakapan, lalu mengaku kesulitan mengajukan cuti karena kebijakan perusahaan yang mewajibkan anggota keluarga untuk mengurus izin tersebut.

 

Tak lama kemudian, korban dihubungi seseorang yang mengaku agen dan diminta mengirimkan dokumen pribadi seperti KTP, rekening bank, serta NPWP sebagai “syarat administrasi.” Untungnya, korban merasa curiga dan menolak memberikan data tersebut. Jika tidak, datanya berpotensi digunakan untuk transaksi ilegal atau pengajuan pinjaman online tanpa sepengetahuan korban.

 

Pola penipuan semacam ini memiliki ciri khas serupa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tawaran gaji terlalu tinggi, proses rekrutmen terburu-buru tanpa prosedur resmi, permintaan biaya administrasi, penggunaan nomor WhatsApp pribadi, dan komunikasi tanpa surat elektronik resmi perusahaan.

 

Pakar keamanan digital mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya. Langkah pencegahan yang disarankan antara lain memverifikasi nomor dan nama perusahaan melalui situs resmi, tidak mengirim uang atau data pribadi kepada pihak yang belum terverifikasi, serta melaporkan akun mencurigakan melalui fitur pengaduan aplikasi atau ke pihak berwenang.

 

“Waspadai siapa pun yang tiba-tiba menghubungi dan meminta data pribadi. Penipu kini memanfaatkan kepercayaan dan kelengahan pengguna media sosial,” ujar Andre dari media harapan lampung

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa modus penipuan digital terus berevolusi. Dari tawaran kerja hingga permintaan pribadi, semua dirancang untuk memancing kepercayaan korban. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, tidak mudah percaya pada pesan yang mengatasnamakan individu atau perusahaan, dan selalu memastikan keaslian informasi sebelum mengambil tindakan.

Andre